The Congregation of the Sisters of Charity of Our Lady Mother of Mercy (SCMM) ATAU Kongregasi Suster Cintakasih dari Maria Bunda yang Berbelaskasih: sebuah Kongregasi Internasional para religius wanita yang hidup dan berkarya berdasarkan sikap hidup belas kasih yang penuh cinta kasih.

Spiritualitas SCMM disemangati dan dituntun oleh Kitab Suci atau Injil. Kisah-kisah tentang hidup Yesus dari Nasaret merupakan hal yang penting dan berguna untuk hidup dan karya-karyanya. Demikian halnya teladan hidup Vinsensius a Paulo dan Maria, Bunda Yang Berbelaskasih merupakan sumber-sumber inspirasi utama untuk hidup berkarya dan berkomunitas serta dalam berbagai pelayanan karitatif. Belaskasih, kesederhanaan dan percaya akan Allah merupakan unsur-unsur yang penting dalam hidup dan karya-karya SCMM.

Kongregasi SCMM mulai berkarya di Indonesia pada taanggal 12 Juli 1885 berawal di kota Padang, Sumatera Barat. Karya misi yang dijalankan adalah menyelenggarakan pelayanan kasih di bidang pendidikan, secara khusus untuk anak-anak orang Eropa dan Tionghoa. Meskipun medannya berat dan sulit para Suster dengan cepat berhasil mendirikan tiga sekolah, dan jumlah ini semakin cepat berkembang, sama halnya dengan jumlah komunitas juga berkembang.

Sampai tahun 1960, status SCMM di Indonesia masih merupakan daerah misi Belanda, yaitu status yang belum dapat berdiri sendiri baik anggota maupun keuangannya. Anggotanya masih dari Negara lain (Belanda) dan Pemimpinnya langsung dihunjuk oleh Pusat (Belanda), yaitu masih orang Luar Negeri (Belanda) dan begitu juga bahasa yang dipakai masih bahasa asing (Bahasa Belanda).

Mulai sejak awal kemerdekaan Indonesia, SCMM Indonesia telah memulai proses Indonesianisasi, yaitu penyesuaian dengan kultur dan identitas Indonesia, termasuk penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Pembinaan awal untuk para Calon Suster SCMM juga sudah mulai dijalankan di Indonesia. Sejalan dengan perkembangan nasional dimana Gereja Katolik Indonesia menjadi provinsi Gereja mandiri, SCMM Indonesia juga resmi menjadi Regio pada tahun 1961. Regio ialah status dimana Pemimpinnya masih dihunjuk oleh Pusat (Belanda), tetapi anggota dari Indonesia sudah mulai berkembang, unsur Indonesianisasi dan inkulturasi dengan  menggunakan Bahasa Indonesia sudah banyak diterapkan, baik dalam doa, peraturan-peraturan Biara dan Komunitas-komunitas, maupun dalam pembinaan atau pendidikan para Calon Suster dan anggota lainnya. Tetapi keuangan masih dibantu dari Pusat (Belanda).

Pada tanggal 17 Oktober 1975, SCMM Indonesia ditetapkan menjadi sebuah Provinsi, dengan Pemimpin Provinsi atau Provinsial Pertama adalah seorang Suster Warga Negara Indonesia, demikian juga anggota Dewannya adalah Suster-suster Indonesia.  Tahun 2001, Suster Misionaris Belanda terakhir meninggalkan Indonesia untuk kembali ke Belanda, sehingga mulai tahun 2001 SCMM Indonesia sudah terdiri dari anggota Suster-suster Indonesia seluruhnya. SCMM Indonesia disebut sebagai Kongregasi SCMM Provinsi Indonesia, dan kemudian dijadikan sebagai sebuah Badan Hukum Keagamaan dengan Akte Nomor 04 tanggal 6 Agustus 2002 yang dibuat oleh Notaris JAP VERONIKA, S.H.

Pada tahun 1989, SCMM Provinsi Indonesia meluaskan misinya ke Timor Leste, yang pada saat itu masih disebut Timor Timur. Sampai pada tahun 2015, kedua Komunitas di Dili dan Ossu masih termasuk sebagai bagian dari Indonesia. Pada bulan 2 Februari 2016, Dewan Pimpinan Umum SCMM memutuskan bagian Timor Leste dipisahkan dari Indonesia dan langsung berada di bawah tanggungjawab Dewan Pimpinan Umum SCMM di Belanda.

Gorrys Alfa

View all posts

2 comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Timeline

Kategori

Twitter Timeline